Tinjauan Perilaku Gen Z Perihal Isu Hewan dan Lingkungan
Latar Belakang
Setiap pergerakan sosial apa pun yang berkelanjutan panjang, membutuhkan generasi muda sebagai pemimpin, pegiat isu dan pendukung potensial gerakan tersebut. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan dalam pergerakan perlindungan hewan dan lingkungan untuk memahami bagaimana Generasi Z (Gen Z) usia dewasa dalam memandang isu-isu penting dan peranan potensi mereka dalam mengatasinya.
Gen Z sering sekali digambarkan memiliki kesadaran lebih dibandingan generasi sebelumnya, sebagaimana direfleksikan dalam pergerakan skala besar seperti Fridays for Future (Jum’at untuk Masa Depan), yang dicetuskan oleh Greta Thunberg, namun variasi antara banyak negara sudah semakin terlihat dengan sangat signifikan. Ragam penelitian menunjukkan bahwa anak muda di Australia, Polandia, Amerika Serikat dan Perancis memiliki kepedulian lebih terhadap isu perubahan iklim dibandingkan generasi sebelumnya, Sementara itu di Jepang, hal sebaliknya justru terjadi dan bahkan tidak ada tren yang menjanjikan di Inggris.
Terkait dengan perilaku perlindungan hewan, anak-anak muda yang berasal dari 14 negara berbeda secara geopolitis menyatakan bahwa kesejahteraan hewan peliharaan, hewan ternak dan satwa liar adalah hal yang penting bagi mereka — meskipun terdapat tingkatan yang berbeda sehubungan dengan spesies yang mereka anggap lebih penting (Sinclair et. al. 2022). Demikian pula, ketika membandingkan pentingnya ragam isu sosial, perlindungan lingkungan, perlindungan hewan dan pembangunan berkelanjutan menempati peringkat tertinggi bagi anak muda di 12 negara yang berbeda (Sinclair et. al. 2017). Yang masih belum diketahui adalah perilaku pro- lingkungan dan pro-perlindungan hewan yang digambarkan oleh generasi ini, mengapa mereka memilih perilaku tersebut dan sejauh mana mereka berkeinginan untuk mendalami bidang-bidang ini.
Penelitian ini menyelidiki kesenjangan-kesejangan yang ditemukan — dengan menjelaskan perspektif, tindakan nyata dan perencanaan karir Gen Z usia dewasa dengan latar pendidikan universitas (usia 18-26) terkait isu lingkungan dan perlindungan hewan di 4 negara yakni Amerika, Cina, Thailand, dan Indonesia. Negara-negara ini dipilih berdasarkan skala, kepentingan regional, dan peranan dalam perdagangan hewan dan peternakan, sehingga menawarkan ragam perspektif guna memberikan masukan strategis terkait calon pemimpin pergerakan potensial dalam berbagai konteks. Temuan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi terhadap strategi advokasi global, penyampaian pesan dan upaya pelibatan generasi muda yang mengejar karir di bidang ini.
Temuan Utama
- Responden Gen Z dengan latar belakang pendidikan universitas di keempat negara memiliki perilaku positif terkait dengan isu perlindungan hewan dan lingkungan. Mayoritas (93%) menyatakan keprihatinan mereka terkait dengan isu-isu ini, dan 86% mengindikasikan preferensi mereka untuk membeli produk-produk yang ramah lingkungan dan hewan. 84% juga menyatakan telah merubah perilaku mereka untuk mendukung perlindungan lingkundan dan hewan.
- Responden Asia juga ditemukan jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan responden Amerika Serikat terkait dengan cukupnya usaha yang mereka dan masyarakat mereka lakukan terkait dengan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan hewan. Lebih dari sepertiga responden Asia merasa negara mereka sudah melakukan usaha yang cukup, dengan lebih dari 80% responden percaya bahwa mereka secara pribadi memiliki keterlibatan langsung yang cukup. Sebaliknya, responden Amerika Serikat memberikan pandangan yang lebih kritis terkait dengan aksi nyata dan budaya mereka, dengan kurang dari separuhnya merasa mereka belum melakukan upaya yang cukup secara pribadi dan hanya sekitar 14% yang merasa puas dengan upaya sosial yang ada.
- Tindakan dan kepedulian terkait dengan lingkungan lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan tindakan dan kepedulian terkait dengan perlindungan hewan, terutama pengabaian terhadap hewan ternak. Para responden, terutama di Asia, jarang sekali menyinggung terkait hewan ternak. Saat membahas terkait dengan upaya dan perilaku perlindungan hewan, mereka lebih fokus pada hewan peliharaan dan satwa liar. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa dorongan yang khusus, perlindungan hewan hanya dapat berterima dengan keutamaan pada satwa liar dan hewan peliharaan saja, namun tidak dengan hewan ternak.
- Ketika Gen Z merubah perilaku mereka, mereka cenderung berfokus kepada mitigasi kerugian secara pribadi dibandingkan dengan terlibat secara proaktif. Meskipun sebahagian besar responden menyatakan bahwa mereka melakukan penyesuaian perilaku sebagai cara untuk membantu perlindungan hewan atau lingkungan, lewat tindakan nyata seperti upaya daur ulang, menghindari plastik sekali pakai, dan memilih produk yang ramah lingkungan dan hewan guna mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan dan hewan pula. Namun, hanya sebahagian kecil yang menggambarkan rangkaian tindakan nyata proaktif dan regeneratif seperti menanam pohon, terlibat menjadi suka relawan, advokasi atau mengadopsi hewan terlantar. Jumlah minoritas yang terlibat aktif ini menunjukkan adanya jalur potensial bagi ragam pihak terkait untuk untuk memperdalam keterlibatan mereka dalam isu-isu ini.
- Motivasi untuk bertindak bersifat antroposentris (terfokus pada manusia) dan hewan/lingkungan. Responden di seluruh negara yang disurvei mendukung tindakan perlindungan lingkungan guna melindungi manusia dari dampak buruk yang berkelanjutan, melindungi kehidupan generasi selanjutnya, dan untuk melestarikan alam sebagai hal yang dianggap baik. Namun, ketika secara khusus dibahas terkait dengan tindakan untuk melindungi hewan, kebanyakan orang cenderung menyebutkan manfaat hewan bagi diri mereka sendiri. Ragam variasi regional terlihat sangat mencolok, dengan responden dari Tiongkok yang lebih menempatkan penekanan keuntungan yang berpusat pada manusia dari pada tindakan perlindungan lingkungan dan hewan dibandingkan dengan negara survei lainnya.
- Hambatan Gen Z terhadap tindakan yang lebih lanjut lebih bersifat praktis dan emosional, dibandingkan ideologis. Para peserta survei sering menyebutkan alasan praktis (seperti hambatan finansial) dan/atau alasan emosional (seperti rasa putus asa atau kesia-siaan) dibandingkan dengan alasan ideologis (seperti tidak percaya pada dampak yang diberikan) sebagai hambatan besar dalam melakukan tindakan nyata. Hampir tidak ditemukannya oposisi ideologis yang menunjukkan bahwa pegiat isu dapat memberikan dampak besar dalam mengidentifikasi dan mengatasi hambatan praktis dan emosional yang menghalangi tindakan aksi nyata, dibandingkan berfokus pada perubahan nilai ataupun keyakinan.
- Persepsi terhadap hambatan dan solusi terhadap isu lingkungan dan hewan sangat bervariasi di tiap negara. Hampir keseluruhan dari responden yang berasal dari Indonesia menyatakan bahwa kurangnya pendidikan dan kesadaran sebagai hambatan utama dan menyarankan advokasi akar rumput atau solusi yang lebih berbasis edukasi. Responden dari Tiongkok sebagian besar lebih menyoroti terkait dengan perilaku budaya, termasuk sikap apatis, perasaan tidak berdaya dan kepatuhan terhadap norma-norma tradisional yang cenderung merusak, sebagai hambatan utama untuk tindakan nyata. Sebaliknya, responden yang berasal dari Amerika Serikat dan Thailand lebih menekankan pada peran kepentingan korporasi dan struktur kapitalis, yang kerap kali berpihak secara politis atau bersifat top down (dari atas ke bawah) dalam mengatasi hambatan-hambatan ini.
- Responden Gen Z biasanya cenderung mengaitkan permasalahan dibandingkan dengan tindakan dan perilaku secara individu dibandingkan dengan faktor sistemik. Responden cenderung lebih menyalahkan ketidaktahuan, niat buruk individu, atau praktik budaya tertentu, dibandingkan dengan permasalahan sistemik yang lebih luas seperti industri peternakan dan industri ekstraktif. Tren ini terlihat lebih kuat di Asia jika dibandingkan dengan Amerika Serikat.
Untuk meninjau Temuan Utama berdasarkan tiap negara, silahkan tinjau pada bagian Masukan Level masing-masing negara yang terdapat pada laporan ini.
Rekomendasi
Bagi Pegiat Isu
- Fokus untuk mengatasi hambatan emosional dan praktis guna menarik lebih banyak minat terkait pada bidang perlindungan lingkungan dan hewan. Hambatan emosional (kurangnya semangat) dan keprihatinan praktis (kurangnya keterampilan atau keprihatinan terhadap kompensasi gaji yang buruk dan ketidakstabilan) merupakan hambatan yang paling utama bagi dua orang responden yang menyatakan tidak terlibat langsung dan juga tidak tertarik berkarir dalam bidang ini. Hal ini menunjukkan ragam intervensi potensial yang dapat dilakukan termasuk dalam strategi yang bertujuan untuk membangkitkan antusiasme dan komitmen di kalangan masyarakat yang lebih luas lagi, serta inisiatif untuk memberikan pengembangan keterampilan dan stabilitas pekerjaan, serta menyediakan kompensasi gaji yang kompetitif bagi mereka yang mempertimbangkan karir di bidang ini.
- Perluas narasi dari yang bersifat individual pada perubahan sistemik. Meskipun hambatan yang dirasakan oleh responden dan solusi yang ditawarkan lebih berfokus pada tindakan secara individu, data menunjukkan bahwa sebagian orang muda mengenali hambatan yang berada pada tingkatan yang berbeda dan percaya pada potensi pendekatan yang dapat memberikan dampak yang lebih baik, seperti membangun pergerakan dan perubahan institusi. Dengan memperkuat perspektif ini, usaha advokasi dapat mendorong fokus yang lebih luas lagi yakni kepada aksi yang lebih berkembang dan solusi sistemik, memperkuat anak muda untuk melakukan aksi secara kolektif dan reformasi institusi dalam konteks budaya yang beragam.
- Menilik lebih jauh dibandingkan hanya mengelompokkan tradisi secara geografis saja sebagai upaya untuk pertukaran pengetahuan. Temuan tidak terduga diantar negara, seperti yang terlihat pada responden Amerika Serikat dan Thailand terkait dengan pandangan terhadap akuntabilitas korporasi, yang memberikan peluang untuk berbagi pengetahuan, dan untuk mengidentifikasi pola-pola baru terkait strategi apa yang mungkin dapat berhasil dan konteks yang berbeda.
- Menghubungkan isu hewan ternak dengan keprihatinan dan motivasi yang sudah ada. Kebanyakan dari orang muda telah memiliki keprihatinan terkait dengan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan satwa liar dan hewan peliharaan, terutama isu-isu ini dirasakan relevan secara pribadi dan terhubung dengan kehidupan mereka sehari-hari. Penempatan isu hewan ternak yang disesuaikan dengan isu keprihatinan yang sudah ada ini dapat membantu menempatkan motivasi yang sudah ditemukan sebelumnya, sehingga dapat membuat upaya advokasi menjadi lebih relevan dan menarik untuk Gen Z.
- Mulai upaya advokasi pada kelompok usia yang lebih muda. Data kami menunjukkan bahwa kesadaran sosial pada usia berbeda di berbagai wilayah, namun anak muda pra-universitas di berbagai negara Asia kemungkinan besar tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan kesadaran sosial, lingkungan atau hewan, sehingga hal ini menjadi area penting yang terabaikan untuk lebih dapat lebih ditingkatkan lagi.
- Pemanfaatan keyakinan pada sektor pendidikan sebagai pilar strategis terhadap advokasi hewan dan lingkungan. Keyakinan Gen Z terhadap pengaruh pendidikan, sebagaimana tergambar pada data kami, dapat memungkinkan mereka untuk berkontribusi terhadap perubahan yang lebih baik. Dengan pelibatan generasi muda dalam pengembangan dan pengujian intervensi secara bertahap — seperti melalui workshop pengembangan keterampilan, program literasi kebijakan, dan kampanye pendidikan publik — pendekatan pendidikan dapat diperluas dan disesuaikan guna memberikan hasil yang terukur, serta hasil yang berdampak besar.
- Menyesuaikan pendekatan pengembangan profesional berdasarkan wilayah. Minat karir yang cukup kuat namun berbeda-beda di berbagai negara menunjukkan perlunya dilakukan strategi pengembangan profesional yang lebih spesifik secara budaya (misalnya fokus stabilitas karir untuk wilayah Tiongkok, penyelarasan minat pribadi untuk Amerika Serikat).
- Merancang pendekatan advokasi yang memahami keberagaman sosial dan realitas ekonomi. Data keseluruhan negara yang disurvei menyoroti kesadaran perbedaan sosio-ekonomi baik di dalam ataupun di luar negara tersebut. Hal ini menggarisbawahi pentingnya advokasi yang harus dilakukan secara hati-hati dengan penyesuaian pesan dan strategi yang cocok pada kondisi sosio-ekonomi berbeda pada tiap-tiap konteks antar negara.
Bagi Peneliti
- Selidiki motivasi dibalik motivasi penempatan prioritas Gen Z terhadap isu lingkungan daripada kesejahteraan hewan. Melakukan studi kualitatif untuk mengeksplorasi faktor psikologis, budaya dan pendidikan yang mempengaruhi Gen Z lebih memiliki preferensi terhadap advokasi lingkungan. Memahami narasi, nilai dan urgensi yang dirasakan sebagai faktor pendorong pembuatan prioritas ini untuk dapat memberikan informasi dan strategi yang dapat berkelindan dan strategi yang disesuaikan pada kampanye perlindungan hewan.
- Mengeksplorasi dampak perubahan generasi terhadap perlindungan hewan dan lingkungan. Melakukan studi kualitatif yang lebih luas atau yang lebih memiliki target atau studi kualitatif longitudinal, guna menilai perilaku orang muda yang berkembang dari waktu ke waktu dan memiliki perbedaan dari generasi yang sebelumnya. Hal ini berpotensi memiliki dapat menguraikan pengaruh usia dan efek antar generasi, menawarkan wawasan baru terkait peran pendidikan, gerakan sosial, dan pengaruh teknologi pada perilaku-perilaku ini. Hal ini kemungkinan dapat memberikan pergeseran adaptasi terhadap strategi advokasi menjadi yang lebih efektif guna menjawab dinamika perubahan antar generasi.
- Menganalisa perbedaan budaya dalam perspektif yang bertanggung jawab. Melakukan studi lintas budaya untuk memahami bagaimana perbedaan wilayah, menerapkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan hewan pada tingkat korporasi dan pemerintah. Mengidentifikasi pola dan faktor pendorong yang dapat membentuk strategi advokasi yang lebih meresonasi pada perilaku skala lokal dan meningkatkan keterlibatan masyarakat berdasarkan inisiatif basis kebijakan.
- Mengeksplorasi strategi guna meningkatkan visibilitas hewan ternak sebagai upaya advokasi. Penelitian dapat mengeksplorasi bagaimana kesejahteraan hewan ternak dapat terintegrasi secara efektif pada narasi advokasi yang sudah ada, seperti narasi yang berfokus kepada keberlanjutan dan sistem pangan. Studi kasus terkait keberhasilan kampanye dalam konteks budaya yang berbeda dapat menjembatani kesenjangan persepsi antara hewan ternak dan hewan peliharaan/satwa liar.
- Selidiki potensi keterkaitan antara pesan konservasi dan kesejahteraan satwa liar. Penelitian harus mengkaji bagaimana kepedulian terhadap satwa liar dan alam serta lingkungan dapat mempengaruhi perilaku terhadap kesejahteraan dan konservasi satwa liar, khususnya dalam mengeksplor bagaimana prinsip-prinsip perlindungan lingkungan dapat meluas atau bahkan bertentangan dengan tujuan perlindungan satwa.
- Menyelidiki mengapa tindakan mitigasi menjadi lebih mendominasi dibandikan tindakan yang proaktif. Mencari tahu Gen Z lebih berfokus pada pencegahan kerusakan dibandingkan dengan kontribusi secara aktif, dengan mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi seperti pendidikan, norma aktivisme, landasan moral dan ekspektasi masyarakat. Penelitian ini akan mampu mengungkap strategi tepat guna memperluas konsep tindakan nyata, mendorong keterlibatan proaktif dan meningkatkan kesadaran akan dampak besar dari tindakan proaktif tersebut.
- Mengatasi kesenjangan minat dan upaya mengejar karir di bidang lingkungan dan hewan. Menginvestigasi hambatan-hambatan yang menghalangi anak muda untuk mengejar karir di bidang ini, walaupun mereka telah menyatakan minat yang besar. Memeriksa keuntungan secara struktural yang membuat karir dalam bidang lingkungan menjadi lebih dapat diakses dengan mudah dan sah, seperti misalnya pengembangan alur berkarir yang matang dan didukung oleh tren. Peneliti dapat bekerja sama dengan institusi pendidikan dan organisasi advokasi untuk mengembangkan serta menguji ragam intervensi seperti program mentorship atau jalur karir inisiatif ataupun mengindentifikasi strategi yang dapat menciptakan jalur yang sesuai terhadap karir perlindungan hewan, mengubah minat menjadi aksi tindakan nyata.
Guna meninjau rekomendasi spesifik pada tiap-tiap negara, silahkan tinjau pada bagian Masukan Level masing-masing negara yang ada pada laporan ini.
Terapan Temuan
Laporan ini dapat dimanfaatkan secara strategis pada beberapa cara utama yakni:
- Merajut pesan pada audiens Gen Z untuk mendorong mereka mengambil keputusan yang berdampak nyata pada isu hewan dan lingkungan;
- Perencanaan bagaimana pelibatan Gen Z dalam gerakan profesional yang memberikan dampak nyata pada hewan dan lingkungan; dan
- Mengidentifikasi intervensi apa yang paling efektif dalam pelibatan Gen Z.
Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, kami memiliki beberapa sumber daya yang mungkin dapat membantu.
Jika anda ingin mengkaji lebih jauh terkait peranan Gen Z dalam organisasi nirlaba, silahkan tinjau laporan dari Animal Advocacy Careers mengenai hambatan dalam gerakan advokasi hewan dan profil kandidat ideal, serta survei yang dilakukan oleh Deloitte terkait Motivasi Gen Z dan Milenial untuk bergabung dengan gerakan iklim. Anda juga mungkin tertarik pada studi kasus terkait dengan program edukasi sistem pangan yang sudah kami lakukan sebelumnya.
Untuk meninjau aksi pro-hewan yang dapat dilakukan oleh Gen Z yang ada di Amerika Serikat, silahkan rujuk perangkat grafik untuk meninjau 18 pilihan yang dapat dipilih. Untuk membaca lebih lanjut terkait dengan individu versus pesan sistemik (tema dari laporan ini), silahkan baca lebih lanjut tulisan Pax Fauna berikut beserta ringkarasn Pustaka kami terkait dengan studi rancangan penyampaian pesan mengenai industri ternak. Lebih lanjut, jika anda ingin mengetahui lebih lanjut terkait dengan Gen Z China secara khusus, silahkan rujuk Ringkasan Pustaka survei yang telah kami lakukan terkait dengan survei populasi tersebut.
Upaya pemahaman keseluruhan generasi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Faunalytics akan dengan senang hati untuk menawarkan dukungan pro bono untuk mendukung pegiat isu dan organisasi nirlaba yang berkeinginan untuk mendapatkan panduan dalam penerapan temuan-temuan ini pada bidang masing-masing. Silahkan kunjungi jam kantor virtual kami atau hubungi kami untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.
Tim Dibalik Layar
Tim Peneliti
Penulis utama dari proyek ini adalah Dr. Michelle Sinclair (A World of Good Initiative), Jack Stennett (Good Growth), dan Jah Ying Chung (Good Growth). Dr. Andie Thompkins (Faunalytics) selaku peninjau dan pengawas dalam proses pelaksanaan.
Ucapan Terima Kasih
Kami mengucapkan terima kasih kepada para pegiat isu yang telah memberikan banyak masukan berharga terkait dengan penelitian ini selama proses peneliatian berlangsung. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada penyandang dana yang telah memberikan dukungan luar biasa terhadap penelitian ini.
Terminologi Penelitian
Di Faunalytics, kami berupaya sebaik-baiknya agar penelitian yang kami lakukan dapat diakses oleh semua orang. Kami menghindari jargon dan terminologi teknis sebisa mungkin dalam setiap laporan kami. Jika anda menemukan terma ataupun frasa yang terasa asing, silahkan rujuk ke Glosarium Faunalytics untuk mendapatkan definisi serta contoh yang dapat membantu.
Pernyataan Etik Penelitian
Sebagaima keseluruhan penelitian murni yang dilakukan oleh Faunalytics, penelitian ini dilakukan sesuai dengan standar yang diuraikan dalam Etika Penelitian dan Kebijakan Penanganan Data kami.
Kunci Temuan Regional Indonesia
- Orang muda Indonesia dilaporkan memiliki angka keterlibatan yang cukup tinggi terhadap isu lingkungan (92%), namun dengan tindakan nyata yang terbilang kecil. Kebanyakan dari perubahan yang muncul hanya berfokus pada upaya mitigasi dasar seperti menghindari penggunaan plastik sekali pakai, tidak membuang sampah sembarangan, sehingga menunjukkan ambang batas yang rendah terkait dengan aksi perlindungan lingkungan.
- Isu kepedulian terhadap lingkungan dan hewan kerap kali dicerminkan lewat hubungan dengan wilayah pedesaan. Berbeda dengan negara lain, responden dari Indonesia terbilang unik dengan menyebutkan aktivitas pertanian, interaksi dengan satwa liar dan pemeliharaan lingkungan sekitar, mengindikasikan ikatan yang lebih kuat dengan alam.
- Minat berkarir pada bidang lingkungan/hewan terbilang cukup tinggi namun tidak diiringi dengan arah pemahaman yang jelas. Meskipun sebanyak 59% responden menyampaikan minatnya pada bidang karir ini, namun sebahagian besar tidak memiliki rencana yang spesifik atau pemahaman yang cukup terkait dengan alur berkarir sehingga hal ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk panduan karir sesuai yang lebih baik.
- Orang muda Indonesia menyampaikan tingkat kepuasan mereka terhadap upaya perlindungan lingkungan dan hewan yang terbilang cukup mengejutkan. Meskipun mereka mengenali adanya tantangan nyata terhadap lingkungan, mereka menyatakan tingkat kepuasan tinggi baik secara personal maupun dalam skala diantara negara-negara survei lainnya.
- Solusi yang dihadirkan, terlihat hanya dari kacamata berbasis masyarakat dibandingkan melalui reformasi kelembagaan. Terdapat adanya pengabaian terhadap perubahan sistemik, orang muda Indonesia memberikan penekanan terhadap edukasi akar rumput dan inisiatif pada tingkat masyarakat sebagai alur utama dalam upaya kemajuan.
Rekomendasi kerja terhadap Gen Z Indonesia
Rekomendasi Komunikasi
- Pengalihan alur advokasi dari tindakan individu kepada solusi yang bersifat sistemik. Data menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih berfokus pada perubahan yang dilakukan secara personal, yang menunjukkan adanya peluang untuk mengalihkan perhatian yang sudah ada menuju ke arah kebijakan yang berdampak lebih besar dan juga kampanye korporasi.
- Menyoroti peran sektor swasta baik terhadap masalah maupun solusinya. Terbatasnya fokus terhadap akuntabilitas dan potensi korporasi menunjukkan adanya titik buta sehubungan dengan pentingnya peranan bisnis skala besar terkait isu sektor hewan/lingkungan.
- Pemanfaatan keyakinan terhadap hubungan keterkaitan antara manusia dengan alam. Nilai-nilai budaya yang mengakar sehubungan dengan manusia, alam dan masyarakat, mengindikasikan adanya peluang dalam penyampaian pesan yang sarat dengan isu lingkungan dan hewan secara holistik.
- Pemanfaatan sosial media dalam pembentukan kembali perspektif aktivisme terkait dengan isu lingkungan dan hewan. Menjalankan kampanye yang positif, dan relevan guna melawan perspektif aktivisme yang dianggap “berlebihan.” Menyoroti cerita-cerita berdampak positif dari anak-anak muda Indonesia yang berkontribusi penting pada masyarakat sekitarnya sebagai upaya penempatan posisi advokasi yang lebih berterima dan praktis.
- Melakukan upaya penyadartahuan seputar kekejaman terhadap hewan yang ada di industri peternakan. Manfaatkan reaksi terkait dengan kasus-kasus kekejaman terhadap hewan yang populer di masyarakat sebagai upaya penyadartahuan yang dikaitkan dengan jumlah total kasus yang serupa dalam bidang peternakan. Upaya ini kemungkinan besar dapat menimbulkan tingkat kesadaran dan empati yang lebih luas.
Rekomendasi Karir
- Perjelas alur berkarir terkait dengan bidang perlindungan lingkungan dan hewan. Masyarakat Indonesia menunjukkan keterbukaan yang jelas terhadap kemungkinan karir dalam bidang ini, namun kebanyakan masyarakat Indonesia belum memiliki pemahaman yang jelas terkait dengan alur karir yang tersedia dan juga peluang untuk dapat ikut memberikan dampak.
- Mendorong inisiatif dan pelatihan untuk pemula terkait dengan isu lingkungan dan hewan. Ketertarikan untuk mendirikan organisasi menunjukkan potensi besar pada program dukungan kewirausahaan.
Aksi Pro-Lingkungan dan Hewan Gen Z Indonesia
Responden Indonesia sering kali menyatakan bahwa adanya perubahan dalam gaya hidup mereka guna melindungi lingkungan dan hewan — 92% menyatakan telah melakukan tindakan nyata. Namun, aksi-aksi ini terbilang hanya mencakup mitigasi kecil saja seperti menghindari plastik sekali pakai dan tidak membuang sampah sembarangan jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Kebanyakan dari responden hanya menggambarkan upaya menghindari perilaku yang merusak, seperti “tidak buang sampah di sungai” atau “tidak memburu satwa liar.” Frekuensi dari tingkatan respon ini menunjukkan ambang batas yang terbilang rendah dari apa yang tergolong sebagai aksi sadar lingkungan atau perubahan gaya hidup di Indonesia. Oleh karena itu, upaya mendorong perubahan yang signifikan mungkin adalah merupakan sebuah tantangan besar.
Beberapa contoh dari tindakan unik yang yang digolongkan sebagai aksi pro-lingkungan/hewan sering sekali dikaitkan dengan kehidupan pedesaan dan alam. Responden sama sekali tidak menyebutkan limbah dari pertanian dan peternakan, penanaman pohon dan menjaga lingkungan sekitar, sementara sebahagian lain menyebutkan tindakan kepedulian terhadap ternak mereka sendiri atau kolam ikan ataupun menghindari kontak langsung dengan satwa liar. Respon beragam ini, walaupun hanya mewakili sebahagian kecil saja, namun menunjukkan bahwa sebagian dari orang muda terpelajar Indonesia menjaga hubungan baik dengan aktivitas pertanian dan satwa liar, hal yang menjadi kontras jika dibandingkan dengan Tiongkok dan Thailand, dimana tidak ada satu responden pun yang menyebutkan hubungan dengan wilayah pedesaan dengan hewan ataupun lingkungan.
Keprihatinan terhadap kesejahteraan hewan terbilang relatif umum dari responden Indonesia. Banyak dari para responden Indonesia memberikan penekanan terhadap tindakan memberi makan hewan terlantar dan sering menyebutkan untuk menghindari produk yang melakukan tes kepada hewan atau produk yang terbuat dari kulit hewan. Hampir serupa dengan responden dari negara Tiongkok, orang muda Indonesia lebih berfokus kepada hewan terlantar ataupun peliharaan. Namun, sebahagian besar dari responden juga menyebutkan aksi yang berhubungan dengan satwa liar seperti upaya perlindungan lingkungan, atau tidak memberi makan ataupun memburu satwa. Sebagaimana respon yang juga ditemukan pada responden dari Tiongkok dan Thailand, isu hewan ternak dan diet jarang sekali disebutkan, yang mengindikasikan adanya kemungkinan kesalahan berpikir terkait dengan kesejahteraan hewan dalam diskusi yang ada di Indonesia sehubungan dengan perlindungan hewan.
Meskipun dibatasi dengan aksi yang terbilang hanya pribadi saja, orang muda Indonesia terbilang memiliki ketertarikan yang besar terhadap isu lingkungan ataupun kesejahteraan hewan. Sebanyak 59% responden menyatakan telah mempertimbangkan karir di bidang ersebut, beberapa diantaranya juga mengekspresikan ambisi yang memiliki tujan besar seperti membentuk organisasi mereka sendiri. Namun, kebanyakan dari mereka tidak memiliki rencana yang spesifik, malah menyatakan keinginan mereka untuk bekerja isu yang lebih luas lagi seperti perlindungan lingkungan, kehutanan, konservasi satwa liar (seperti gajah dan orangutan), ataupun bekerja baik di organisasi pemerintahan ataupun organisasi nirlaba. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun keinginan yang terbilang cukup besar, orang muda Indonesia belum memiliki panutan tertentu atau alur yang jelas dalam mengejar bidang karir ini. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengidentifikasi lebih mendalam bagaimana alur karir ini dapat terbuka lebar oleh orang muda Indonesia.
Alasan Gen Z Indonesia Bertindak atau Tidak Bertindak
Ketika membicarakan alasan terkait dengan tindakan yang dilakukan untuk isu lingkungan ataupun perlindungan hewan, masyarakat Indonesia cenderung menekankan keterkaitan pada segala isu dibandingkan hanya berfokus pada adanya keprihatinan pada sisi hewan/lingkungan ataupun sisi antroposentris saja. Para peserta menggambarkan hubungan antara kesehatan manusia, keberlanjutan, keanekaragaman hayati dan ekosistem alam, yang mana hewan dianggap sebagai bagian dari yang tidak terpisahkan. Para responden menyebutkan bahwa adanya banyak keterkaitan, mulai dari rantai makanan dan ketahanan pangan dengan penyebab kerusakan lingkungan, seperti polusi laut, juga menyebabkan penderitaan hewan. Beberapa juga menyebutkan keterkaitan dengan masyarakat lokal:
Habitat dan ekosistem haruslah dilindungi, dan perhatian juga harusnya ditekankan pada keterkaitan setiap tindakan yang dilakukan oleh masyarakat lokal yang tinggal di sekitar wilayah ruang hidup satwa liar.
Perspektif ini mungkin merupakan cerminan dari cara berpikir masyarakat Indonesia dalam mengkonseptualisasikan alam, ekologi dan ekonsistem sebagai cara pandang melihat dunia, hal ini dimungkinkan oleh hubungan yang erat dengan alam sebagai gaya hidup dibandingkan negara-negara lain. Dengan menghadirkan isu-isu yang terabaikan, seperti industri pertanian atau produksi kelapa sawit, pada cara pandang yang saling berkaitan ini akan dapat meningkatan keterlibatan orang muda dalam isu perlindungan lingkungan ataupun hewan.
Masyarakat Indonesia kerap kali menekankan bahwa hewan, sebagaimana manusia adalah makhluk hidup yang berhak mendapatkan perhatian dan perlindungan. Beberapa dari responden juga menyebutkan kata “hak untuk hidup” dalam konteks ini. Namun, kerangka berpikir ini jarang sekali diperluas pada kekejaman yang dilakukan pada industri ternak. Para pegiat isu ini dapat memanfaatkan motivasi yang sudah ada untuk lebih memperluas lingkar moral masyarakat Indonesia agar lebih peduli pada hewan terlantar lainnya dan menyoroti keterkaitan yang ada kepada etika kepedulian yang lebih luas lagi.
Persepsi Gen Z Indonesia terkait Upaya dan Hambatan Yang Ada Di Masyarakat
Masyarakat Indonesia terbilang cukup puas dengan upaya skala nasional maupun personal terkait dengan isu lingkungan dan kesejahteraan hewan. Indonesia menjadi negara satu-satunya dimana lebih dari setengah jumlah responden menyatakan bahwa negara mereka sudah melakukan upaya yang cukup. Hanya 40% dan 41% responden Indonesia yang meyakini bahwa negara mereka belum melakukan upaya yang cukup untuk melindungi lingkungan dan kesejahteraan hewan, sementara itu hanya sejumlah 2% dan 4% yang meyakini bahwa mereka belum melakukan upaya yang cukup secara personal. Hal ini terbilang mengejutkan, mengingat banyaknya responden Indonesia yang menyadari besarnya tantangan lingkungan hidup yang ada di Indonesia. Hal ini kemungkinan merefleksikan standar budaya, konteks ekonomi yang berperan penuh dalam membentuk ekspektasi, atau sebuah kecenderungan untuk mengaitkan tanggung jawab kepada kerusakan lingkungan yang ada di tempat lain.
Dibandingkan dengan respon negara lain, masyarakat Indonesia terbilang sangat kecil menyinggung adanya hambatan dari sektor pemerintahan dan terutama hambatan dari sektor swasta sebagai hambatan utama dari aksi perlindungan lingkungan dan kesejahteraan hewan. Para responden menyebutkan hambatan-hambatan seperti “kurangnya inisiatif politik” dan “lemahnya penerapan kebijakan dan peraturan yang memadai” terkait dengan upaya perlindungan hewan dan juga lingkungan. Menariknya, Gen Z Indonesia tidak banyak menyinggung terkait sektor korporasi; bahkan sama sekali tidak ada penyebutan yang berhubungan dengan pemilik industri peternakan, perusahaan kelapa sawit ataupun pelaku korporasi lainnya.
Sebaliknya, berbeda dengan negara-negara lain seperti Amerika Serikat, hambatan mendasar terhadap kemajuan di Indonesia hanya berpusat pada kurangnya pendidikan dan kesadaran, dibandingkan dengan hambatan sistemik. Pendidikan dan kesadaran muncul sebagai hambatan yang paling banyak disebutkan, dan para responden menyatakan bahwa kebanyakan orang tidak sepenuhnya mengerti pentignya upaya perlindungan lingkungan dan kesejahteraan hewan, ataupun dampak dari perilaku pribadi mereka.
[Hambatan terbesar adalah] kurangnya kesadaran dan pendidikan mengenai pentingnya lingkungan dan perlindungan hewan. Aktivitas manusia yang tidak perduli menyebabkan dampak negatif pada lingkungan dan perlakuan tidak adil pada hewan.
Perspektif ini kemungkinan muncul dari adanya kesadaran luas terkait dengan kesenjangan pendidikan — terutama pada kalangan masyarakat miskin dan masyakat desa terpencil Indonesia. Hal ini juga dapat disebabkan oleh jurang kesenjangan tertentu dalam pendidikan terkait topik ini dan peranan dalam membentuk sikap, ataupun pengalaman pribadi dari peserta didik itu sendiri.
Responden Indonesia sering sekali mengaitkan permasalahan kesejahteraan hewan dan permasalahan lingkungan dengan “orang yang melakukan kejahatan” dan juga praktik budaya. Mereka menggambarkan bahwa masyarakat dengan perilaku yang tidak mempunyai kepedulian terhadap hewan, dengan menyebutkan contoh seperti mengkonsumsi daging kucing, memisahkan induk monyet dari anaknya, dan juga memiliki hewan peliharaan hanya sekadar hiburan atau faktor keamanan tanpa memperdulikan kesejahteraan hewan tersebut. Adanya fokus terhadap kasus-kasus yang tidak biasanya ini menunjukkan masyarakat Indonesia menganggap bahwa permasalahan ini terjadi disebabkan oleh kejahatan individu dan juga praktik budaya dibandingkan dengan kejahatan yang terjadi sehari-hari ataupun sistem yang merusak seperti yang ada pada industri peternakan. Meskipun tanggapan-tanggapan ini mengindikasikan adanya kesadaran yang meningkat berkaitan dengan kasus-kasus tertentu sehubungan dengan kekejaman terhadap hewan, ini juga menunjukkan adanya pemahaman terbatas terhadap faktor yang menjadi sumber penderitaan hewan yang sebenarnya, yang perlu menjadi perhatian oleh para pegiat isu ini.
Yang terakhir, kegiatan aktivisme yang ada di Indonesia mungkin juga menghadapi tantangan yang berasal dari perspektif berbeda dari para pegiat isu ini pula dan, lebih jauh, terkait dengan persepsi masyarakat mengenai legitimasi dan nilai kepedulian terhadap hewan dan lingkungan.
Tantangan terbesarnya adalah stigma masyarakat yang melekat kepada aktivis perlindungan hewan dan lingkungan, yang kerap kali dianggap memiliki rasa cinta yang berlebihan terhadap hewan dan lingkungan itu sendiri.
Respon ini mengindikasikan bahwa advokasi terhadap hewan dan lingkungan dianggap kurang penting dibandingkan dengan isu-isu lain yang dianggap lebih penting, seperti permasalahan tingkat kemiskinan Indonesia yang terus meningkat. Hal ini juga mendukung bukti temuan lain yang juga menunjukkan bahwa perspektif terkait dengan advokasi dianggap sebagai sesuatu yang ekstrim ataupun tidak seimbang yang menjadi tantangan tersendiri di wilayah Asia (Faunalytics, 2021). Para pegiat isu ini menghadapi tantangan besar untuk melawan pandangan-pandangan semacam ini, sembari berusaha terus menerus untuk membuktikan penting dan urgensinya kerja-kerja yang mereka lakukan.
Perspektif Gen Z Indonesia Terkait Solusi Terhadap Tantangan Yang Ada
Responden yang berasal dari Indonesia percaya bahwa solusi terhadap tantangan isu lingkungan dan kesejahteraan hewan dapat muncul dari berbagai pihak, dengan sektor publik yang dianggap berperan penting untuk mengatasi permasalahan tata kelola tingkat yang lebih tinggi dan tantangan pendidikan. Terkait regulasi lingkungan hidup, sebahagian mempercayai bahwa pemerintah harus perlu untuk menjadi “lebih tegas” dan lebih ketat terkait dengan penerapannya. Sebahagian dari responden lainnya secara spesifik menyinggung tentang permasalahan pendanaan dan kapasitas Indonesia sebagai negara, dengan salah seorang responden yang menyatakan pentingnya memperoleh “sumber pendanaan yang berkelanjutan melalui pajak lingkungan hidup, pendanaan internasional, dan juga kemitraan dengan sektor swasta” Penambahan program edukasi pada level institusi sekolah adalah contoh umum bagaimana sektor swasta dapat mengatasi tantangan yang ada sehubungan dengan tantangan pendidikan.
Selain dari solusi yang bersifat kelembagaan, para responden juga menekankan pentingnya inisiatif akar rumput dan juga masyarakat sipil, terutama yang berfokus kepada pendidikan masyarakat dan membangun pergerakan. Mereka menggambarkan beberapa pendekatan terkait dengan pendidikan akar rumput, termasuk kampanye media sosial, pembangungan kesadaran masyarakat, dan solusi yang menargetkan skala lokal. Salah seorang dari responden menyebutkan adanya kebutuhan untuk menciptakan pergerakan sosial berbasis masyarakat untuk “memberikan pemahaman masyarakat sekitar mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekitar dan mendorong mereka untuk melindungi lingkungan hidup.” Hal ini menekankan bahwa intervensi pada tingkat masyarakat adalah cerminan dari keterbatasan kesadaran yang dimiliki oleh Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Respon ini menunjukkan adanya keyakinan bahwa, jika sesuatu dianggap sesuai dengan keyakinan dan kebutuhan masyarakat, maka pergerakan sosial akan dapat menghasilkan perubahan yang signifikan.
Citations:
Sinclair, M., Stennett, J., & Chung, J. Y. (2025). Exploring Gen Z’s Attitudes Towards Animals And The Environment. Faunalytics. https://faunalytics.org/exploring-gen-zs-attitudes-towards-animals-and-the-environment/

