Program Insentif Pelepasan Hewan Laut Menunjukkan Dampak Tak Terduga
This post has been translated from English to Indonesian. You can find the original post here.
Konservasi laut menghadapi tantangan kritis: bagaimana melindungi spesies yang terancam punah sekaligus membantu komunitas nelayan yang bergantung pada sumber daya laut untuk mata pencaharian mereka. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah membayar nelayan untuk melepaskan hewan yang terancam punah dalam keadaan hidup, alih-alih menjualnya. Namun, sebuah studi dari Indonesia mengungkapkan bahwa program semacam ini dapat menimbulkan konsekuensi tak terduga yang secara signifikan mengurangi dampak konservasinya.
Para peneliti melakukan uji coba terkontrol secara acak pertama kali dari sebuah program insentif pelepasan (pay-to-release) hewan laut. Studi ini berfokus pada dua spesies yang sangat terancam punah: hiu martil dan pari baji. Hewan ini termasuk di antara spesies laut yang paling terancam di dunia, terutama akibat penangkapan berlebihan baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
Studi ini bertujuan untuk menguji apakah insentif finansial dapat secara efektif mengurangi kematian spesies yang terancam punah ini sekaligus memastikan bahwa komunitas nelayan tidak dirugikan secara ekonomi oleh upaya konservasi. Tim peneliti bekerja sama dengan 87 kapal nelayan di lima desa pada dua wilayah di Indonesia selama 16 bulan. Mereka menggunakan desain crossover, di mana kapal-kapal secara bergantian berada pada periode menerima insentif dan periode kontrol tanpa insentif. Pendekatan eksperimental ini memungkinkan para peneliti membandingkan apa yang terjadi ketika kapal yang sama mendapat insentif dan ketika tidak mendapatkannya.
Nelayan bisa menerima insentif dengan menyerahkan rekaman video pelepasan hidup yang diambil menggunakan kamera yang disediakan oleh program ini. Besaran insentif bervariasi menurut wilayah berdasarkan nilai pasar setempat — mulai dari sekitar US$1 hingga US$34 untuk hiu martil dan US$8 hingga US$134 untuk pari baji, tergantung lokasi dan ukuran. Tim peneliti memantau jumlah pelepasan hidup (melalui video yang diserahkan) serta total tangkapan hewan mati (melalui survei harian di lokasi pendaratan ikan) sepanjang periode studi.
Dengan menggunakan metode pemantauan konvensional — yaitu hanya menghitung jumlah pelepasan hidup — program ini tampak sangat berhasil. Para peneliti mencatat penurunan kematian pari baji sebesar 71% dan hiu martil sebesar 4%, dihitung dari jumlah hewan yang dilepas kembali dalam keadaan hidup. Namun, desain eksperimental tersebut mengungkapkan gambaran yang lebih kompleks. Saat dibandingkan antara total tangkapan pada periode insentif dan periode kontrol, manfaat konservasi yang diperoleh terbukti jauh lebih terbatas. Program ini hanya berhasil menurunkan kematian pari baji sebesar 25%. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kematian hiu martil justru meningkat sebesar 44% selama periode insentif.
Perbedaan antara hasil pemantauan konvensional dan temuan eksperimental mengungkap bahwa sebagian nelayan melakukan ‘tindakan terselubung’ — menambah upaya penangkapan saat ada insentif tersedia. Adanya insentif membuat sebagian kapal sengaja menangkap lebih banyak spesies target, dengan melepas individu yang lebih kecil dan kurang bernilai untuk memperoleh bayaran, sementara individu yang lebih besar dan bernilai tinggi tetap dijual. Pola ini terlihat paling jelas di desa-desa yang menerima sebagian besar insentif. Korelasi antara tangkapan hiu martil dan pari baji 37% lebih tinggi selama periode insentif dibandingkan periode kontrol, yang menunjukkan bahwa upaya menangkap satu spesies mendorong peningkatan tangkapan spesies lainnya.
Perbedaan hasil antara hiu martil dan pari baji mencerminkan perbedaan biologis yang penting. Pari baji memiliki tingkat kelangsungan hidup yang relatif tinggi setelah ditangkap (hingga 90%) karena sistem pernapasannya, sehingga pelepasan hidup lebih memungkinkan dilakukan. Sebaliknya, tingkat kelangsungan hidup hiu martil setelah ditangkap jauh lebih rendah (sekitar 50%) karena harus terus berenang untuk bernapas, sehingga pelepasan hidupnya lebih sulit berhasil.
Studi ini menawarkan sejumlah pelajaran krusial bagi para pemerhati satwa yang bergerak dalam konservasi laut:
- Pertama, hal ini menunjukkan pentingnya evaluasi yang ketat sebelum memperluas skala program konservasi. Tanpa desain eksperimental, program ini akan dianggap berhasil dan kemungkinan besar diperluas, yang justru bisa menimbulkan lebih banyak kerugian daripada manfaat bagi populasi hiu martil yang terancam punah.
- Kedua, studi ini menunjukkan bahwa program insentif finansial memerlukan desain yang cermat dengan mempertimbangkan faktor ekologis seperti tingkat kelangsungan hidup pascatangkap dan faktor ekonomi seperti nilai relatif hewan berdasarkan ukuran yang berbeda.
- Ketiga, para pegiat harus mempertimbangkan bahwa program pay-to-release mungkin lebih efektif jika menjadi bagian dari strategi konservasi yang lebih luas daripada dijalankan sebagai solusi tunggal. Penulis menyarankan agar insentif per individu dikombinasikan dengan insentif untuk komunitas, ditambah langkah lain seperti penutupan area penangkapan atau perubahan alat tangkap.
Studi ini menegaskan bahwa pegiat perlu mendorong evaluasi berbasis eksperimen atas upaya konservasi, meskipun programnya terlihat jelas menguntungkan. Para peneliti mencatat bahwa “bahkan program konservasi yang dirancang dengan sangat hati-hati bisa saja tidak memperhitungkan semua ketidakpastian dan kerumitan di lapangan.” Walaupun studi ini tidak serta-merta membuktikan bahwa program pay-to-release tidak bisa berhasil, studi ini menyajikan wawasan penting untuk merancang program konservasi laut yang lebih efektif, sehingga dapat memberikan manfaat nyata bagi spesies terancam punah sekaligus mendukung keberlangsungan komunitas nelayan.
https://doi.org/10.1126/sciadv.adr1000

