Kolaborasi Lintas Gerakan Terkait Advokasi Isu Hewan Ternak Di Kawasan Asia Tenggara
Latar Belakang
Tujuan organisasi advokasi isu hewan berpotensi untuk membawa manfaat tidak hanya pada hewan saja, tetapi juga kesehatan masyarakat, dampak lingkungan, dan mata pencaharian, yang menyebabkan banyak orang berkeyakinan bahwa peningkatan kerja sama antar gerakan sosial akan dapat meningkatkan dampaknya. Penelitian telah menemukan bahwa pendukung gerakan lingkungan lebih cenderung mengambil tindakan yang tergolong pro-hewan daripada mereka yang tidak peduli sama sekali (Faunalytics, 2023), dan bahwa potensi kolaborasi antara pegiat isu hewan dan organisasi iklim dapat dilakukan di Tiongkok, Brasil, dan AS (Faunalytics, 2024), terutama pada isu-isu seperti advokasi hukum, pendidikan, dan promosi pola makan nabati. Lebih lanjut, kerangka kerja penelitian dan kebijakan telah dikembangkan di India (Samayu, 2024) untuk mendukung kolaborasi antara pegiat isu hewan dan gerakan lainnya, melibatkan para pembuat keputusan dan peternak melalui lensa One Health dan daya lenting. Namun, Asia Tenggara, wilayah penting untuk advokasi hewan ternak, tidak memiliki penelitian yang sebanding untuk dapat mendukung keselarasan semacam ini.
Lingkup kajian ini mengeksplorasi gerakan-gerakan sosial di masyarakat Asia Tenggara secara lebih luas — apa saja gerakan-gerakan ini, siapa saja pelaku utamanya, bagaimana mereka mencapai kebijakan atau implementasi tujuan-tujuan umum lainnya, dan bagaimana berbagai gerakan di kawasan ini telah bekerja sama sebelumnya. Studi ini juga mengkaji bagaimana gerakan-gerakan ini memandang, dan dapat mendukung, tujuan-tujuan yang mereka bagi dengan para pegiat isu hewan ternak.
Studi ini mengkaji gerakan sosial di enam negara Kawasan Asia Tenggara — Thailand, Indonesia, Filipina, Singapura, Malaysia, dan Vietnam — yang dipilih berdasarkan jumlah total populasi manusia dan hewan yang cukup besar serta signifikansi perekonomiannya. Setelah tinjauan pustaka awal, peneliti lokal membantu mengidentifikasi organisasi-organisasi kunci, literatur kelabu, dan konten media sosial tentang gerakan sosial di negara mereka masing-masing. Kemudian kami memilih dua gerakan untuk analisis lebih dalam: gerakan lingkungan dan gerakan kesehatan dan pembangunan, yang berfokus pada pembangunan manusia — kesejahteraan, mata pencaharian, dan akses ke layanan dasar. Kami mewawancarai staf senior di organisasi-organisasi dalam gerakan-gerakan ini, memberikan wawasan spesifik tentang gerakan sosial di wilayah mereka.
Temuan-temuan ini akan dapat membantu para pegiat isu hewan ternak untuk dapat menyusun strategi kolaborasi di masa mendatang dengan gerakan-gerakan lain, memberikan arahan terkait cara pendekatan terhadap mereka, bagaimana tujuan-tujuan mereka dapat saling berkelindan, dan analisis per negara untuk memberikan saran yang lebih spesifik. Laporan ini juga akan membantu para peneliti memikirkan proyek-proyek penelitian mendatang yang dirancang untuk mempermudah advokasi dan kolaborasi di Kawasan Asia Tenggara.
Temuan Kunci
- Gerakan lingkungan dan kesehatan/pembangunan di Asia Tenggara menunjukkan peluang kolaborasi yang paling menjanjikan. Mereka menyampaikan keprihatinan yang sama dengan para pegiat isu hewan, terutama terkait pola makan, perubahan tata guna lahan, penggunaan antibiotik yang berlebihan, dan penyebaran penyakit dalam peternakan, serta dampak lingkungan dari indistri peternakan, dan dampak ekonomi peternakan terhadap mata pencaharian masyarakat pedesaan dan masyarakat berpenghasilan rendah. Beberapa organisasi dalam gerakan ini telah terlibat dalam advokasi terkait sistem pangan berkelanjutan dan sehat, sehingga mereka menjadi mitra yang reseptif bagi para pegiat isu hewan ternak.
- Kolaborasi yang signifikan telah terjalin antar dan di dalam gerakan, terutama terkait dengan isu-isu iklim, kesehatan, dan isu-isu interseksional. Organisasi iklim dan kesehatan seringkali bekerja sama dalam koalisi kompleks yang mencakup berbagai kelompok demografi dan bidang isu. Selain itu, koalisi lintas isu atau koalisi politik, seperti yang terjadi dengan Partai Move Forward yang baru saja dibubarkan di Thailand, telah menyatukan gerakan-gerakan yang menangani isu-isu yang saling berkaitan. Selain aliansi formal, terdapat pula keterkaitan dan dukungan lintas isu yang cenderung oportunis, seperti pertemuan organisasi-organisasi iklim yang tidak terlalu berkaitan erat untuk menyusun pernyataan bersama, yang memungkinkan kolaborasi yang lebih fleksibel dan spesifik terhadap isu tertentu.
- Koalisi berfungsi melalui peran yang saling melengkapi, negosiasi strategis, dan beragam pendekatan advokasi. Koalisi yang efektif menetapkan peran berdasarkan kekuatan anggotanya — beberapa organisasi berfokus pada mobilisasi akar rumput atau keterlibatan kelembagaan, sementara yang lain menyeimbangkan taktik konfrontatif dan diplomatik tergantung pada konteksnya. Keberhasilan koalisi seringkali bergantung pada mitra yang menegosiasikan prioritas bersama, membangun kepercayaan, dan melibatkan para pengambil keputusan secara strategis. Bagi para pegiat isu hewan, hal ini membutuhkan keseimbangan antara kompromi dengan tujuan advokasi dan menavigasi dinamika kekuasaan secara cermat, terutama ketika memasuki tahapan koalisi yang terbentuk.
- Faktor politik dan sosial menciptakan variasi yang luas dalam kekuatan gerakan dan potensi koalisi di berbagai negara. Sementara negara-negara seperti Thailand dan Filipina diuntungkan oleh gerakan sosial yang dinamis dan keterlibatan akar rumput, negara-negara lain, seperti Singapura dan Vietnam, menghadapi kendala akibat terbatasnya ruang publik dan lingkungan politik yang restriktif. Keterbatasan struktural dan pendanaan, terutama di negara-negara seperti Vietnam dan Malaysia di mana aktivitas nirlaba dipantau secara ketat, semakin membentuk kemungkinan kolaborasi. Upaya lintas batas dan proyek koalisi regional yang besar dapat memperkuat dampak, memfasilitasi pertukaran pengetahuan, dan seringkali berada pada posisi yang lebih baik untuk mendapatkan dana hibah dan dukungan (lihat Lampiran untuk daftar pendanaan). Namun, koalisi regional cenderung dapat sulit dipertahankan, karena prioritas lokal, konteks politik, dan strategi advokasi yang berbeda seringkali memerlukan pendekatan yang spesifik untuk masing-masing negara.
- Keselarasan dan kepercayaan sangat penting untuk kolaborasi yang efektif. Kemitraan yang sukses dengan gerakan sosial lain membutuhkan keselarasan strategis dan pembentukan kredibilitas. Beberapa gerakan atau aktor mungkin memandang advokasi hewan ternak adalah isu yang tidak penting atau bertentangan dengan prioritas mereka, sehingga menimbulkan skeptisisme terhadap kolaborasi. Oleh karena itu, para pegiat isu harus berinvestasi dalam menemukan titik temu dan membangun hubungan serta kredibilitas. Hal ini dapat dicapai melalui keterlibatan dengan jaringan yang ada, membangun kepercayaan, dan menunjukkan keselarasan dengan isu-isu bersama — seperti kesehatan masyarakat, mata pencaharian, atau perlindungan lingkungan — sebelum memperkenalkan isu-isu hewan ternak.
- Gerakan sosial mendorong perubahan melalui advokasi dari atas ke bawah (top-down) dan mobilisasi dari bawah ke atas (bottom-up). Advokasi dari atas ke bawah berfokus pada kebijakan dan keterlibatan perusahaan, sementara advokasi dari bawah ke atas menekankan aksi akar rumput dan pergeseran budaya. Pendekatan-pendekatan ini juga berinteraksi dengan perbedaan antara gerakan yang digerakkan oleh elit yang menyasar aktor institusional atau kelas menengah perkotaan dan gerakan yang melibatkan komunitas pedesaan atau kelas pekerja. Para pegiat isu harus mempertimbangkan bagaimana dinamika ini dalam membentuk strategi mereka dan apakah akan memprioritaskan perubahan institusional, keterlibatan akar rumput, atau gabungan keduanya berdasarkan kapasitas dan konteks lokal mereka.
- Kolaborasi antar dan di dalam gerakan seringkali pragmatis dan berbasis proyek. Di seluruh Asia Tenggara, para pegiat isu gerakan iklim dan kesehatan/pembangunan sering berkolaborasi melalui acara bersama, penelitian bersama, kerja sama perjanjian, inisiatif yang didanai bersama, dan kemitraan berbasis proyek. Kolaborasi ini seringkali dimotivasi oleh manfaat bersama, keselarasan strategis, atau dukungan praktis. Gaya yang fleksibel dan berorientasi pada peluang ini memungkinkan para pelaku untuk membangun kepercayaan dan dampak tanpa memerlukan keselarasan nilai penuh.
Rekomendasi
Untuk Pegiat Isu
- Ketika berbicara dengan individu yang berasal dari gerakan lain, utamakan menyorot tujuan bersama anda dan pikirkan titik masuk terbaik untuk percakapan tersebut. Para pegiat isu dapat merajut strategi keterlibatan dan penyampaian pesan untuk menekankan titik temu ini, dengan menempatkan kesejahteraan hewan ternak sebagai bagian dari upaya gerakan sosial yang lebih luas, yang dapat mengarah pada koalisi yang berkelanjutan. Sebagai contoh, jika Anda tertarik untuk berkolaborasi dengan gerakan lingkungan, akan bermanfaat untuk membahas praktik-praktik tidak berkelanjutan yang terkait dengan peternakan. Titik masuk tersebut dapat mencakup proyek kolaboratif, penelitian bersama, atau target bersama.
- Saat melakukan pengukuran dampak, pertimbangkan manfaat yang dapat diberikan kampanye tersebut terhadap manusia, bukan hanya pada hewan semata. Para pegiat isu harus mempertimbangkan tidak hanya jumlah hewan yang terdampak, tetapi juga sisi keberlanjutan dan daya tarik terkait upaya yang berfokus pada manusia. Isu-isu seperti ketahanan pangan, mata pencaharian pedesaan, dan kesehatan masyarakat dapat menciptakan titik masuk yang alami terkait dengan kolaborasi, dan upaya penyelarasan yang dapat memperkuat kredibilitas dan efektivitas dalam jangka panjang. Meskipun mengoptimalkan kehidupan hewan tetap penting, mengintegrasikan dinamika yang lebih luas ini ke dalam pengambilan keputusan dapat membantu memastikan dampak yang berkelanjutan.
- Bangun hubungan dan kredibilitas untuk memperkuat kebijakan dan taktik advokasi perusahaan. Dalam konteks di mana gerakan akar rumput yang terbatas, upaya mempengaruhi kebijakan dan perilaku perusahaan seringkali membutuhkan penargetan jaringan elit, seperti pelaku bisnis, individu berpenghasilan tinggi, atau pengambil keputusan kunci. Hal ini dapat mencakup membangun hubungan dengan lingkaran advokasi yang memiliki koneksi baik, berpartisipasi dalam acara tingkat tinggi, dan mencari mentor guna meraih kredibilitas. Dalam lingkungan yang erat di mana “semua orang saling mengenal”, jaringan luas dengan ikatan yang longgar dapat membantu dalam ragam cara.
- Bangun kepercayaan dengan gerakan akar rumput melalui kehadiran, kesadaran ekonomi, dan penghormatan terhadap budaya. Mobilisasi akar rumput dapat membantu membentuk norma-norma budaya dan memperkuat keterlibatan publik. Kehadiran — seperti menghadiri protes atau acara komunitas — dapat sangat membantu dalam membangun kepercayaan dan hubungan baik. Untuk memperdalam kolaborasi, para pegiat isu juga harus menghormati preferensi budaya dan secara aktif mendukung kepentingan ekonomi para pelaku akar rumput.
- Rajut strategi koalisi dengan konteks dan peluang yang ada. Berbagai jenis koalisi menawarkan keuntungan yang berbeda-beda. Aliansi formal (misalnya, bergabung dengan koalisi iklim multi-isu) dapat memberikan dukungan terstruktur dan platform bersama, terutama jika didekati melalui isu-isu yang selaras seperti sistem pangan berkelanjutan. Sebagai alternatif, kolaborasi oportunistik atau berbasis proyek, bahkan dengan kelompok yang tidak memiliki nilai-nilai yang sama, dapat menjadi efektif ketika terdapat kepentingan bersama atau peluang pendanaan bersama. Bersikap fleksibel dalam memilih jenis koalisi dapat membuka peluang yang mungkin tak terduga.
Untuk Peneliti
- Melakukan studi kasus terkait dengan kolaborasi lintas gerakan yang sukses. Meskipun kajian ini menyoroti potensi keselarasan antara advokasi hewan ternak dan gerakan sosial lainnya, studi kasus yang lebih rinci sangat diperlukan. Peneliti perlu menganalisis kolaborasi sebelumnya yang ada di seluruh Asia Tenggara untuk mengidentifikasi pesan yang efektif, struktur koalisi, dan kemitraan strategis yang dapat menghasilkan perubahan kebijakan nyata atau pergeseran sikap masyarakat umum.
- Identifikasi peluang konkret untuk kolaborasi dengan mengkaji proyek dan inisiatif legislatif yang ada terkait dengan bidang peternakan. Berdasarkan tumpang tindih yang dapat diidentifikasi dalam kajian ini, penelitian harus mengkaji upaya lingkungan dan kesehatan/pembangunan yang aktif serta keterlibatan secara langsung dengan gerakan sosial yang ada di baliknya. Pada saat yang sama, mengeksplorasi undang-undang dan kebijakan spesifik — seperti peraturan kesejahteraan, subsidi, atau standar pelabelan — dapat mengungkap titik-titik kunci yang dapat dimanfaatkan untuk menyelaraskan advokasi hewan ternak dengan tujuan gerakan yang lebih luas dan mencapai dampak kebijakan yang signifikan.
Di bawah ini, kami membagikan serangkaian profil masing-masing negara yang memberikan beberapa petunjuk singkat tentang dinamika potensi kolaborasi lintas gerakan. Untuk profil negara lengkap dan rekomendasi terperinci per negara, silakan lihat laporan lengkapnya.
Penerapan Temuan
Kami memahami betul bahwa penelitian semacam ini mengandung banyak informasi yang perlu dipertimbangkan dan juga menindaklanjuti penelitian ini pun dapat menjadi tantangan tersendiri. Faunalytics dengan senang hati menawarkan dukungan pro bono kepada para pegiat isu dan organisasi nirlaba yang membutuhkan panduan terkait. Silahkan kunjungi jam kerja virtual kami atau hubungi kami untuk dukungan lebih lanjut.
Tim Balik Layar
Tim Peneliti
Pimpinan dari penulis proyek ini adalah Jack Stennett (Good Growth), Ella Wong (Good Growth), dan Fiona Rowles (Institute of Social and Economic Research). Dr. Allison Troy (Faunalytics), Dr. Andie Thompkins (Faunalytics), Dr. Jo Anderson (Faunalytics), dan Jah Ying Chung (Good Growth) selaku peninjau dan pengawas kerja. Kami juga menerima dukungan yang sangat berarti dari peneliti lokal kami: Kevin Bautista, Lien Huong Trinh, Napat Tandikul, Nia Nur Pratiwi, Pichayapohn Ritkampee, dan Shenshen Yeoh.
Ucapan Terima Kasih
Kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para pegiat isu dan pemimpin gerakan yang diwawancarai untuk kajian ini, atas wawasan berharga yang telah mereka berikan. Selain itu, kami juga berterima kasih kepada para donatur Faunalytics atas dukungan Anda — donasi Anda telah memungkinkan kami melakukan penelitian penting seperti ini untuk membantu anda mengambil tindakan bagi hewan.
Terminologi Penelitian
Di Faunalytics, kami berupaya agar penelitian kami dapat diakses oleh semua orang. Kami berusaha sebisa mungkin untuk menghindari jargon dan terminologi teknis dalam setiap laporan kami. Jika Anda menemukan istilah atau frasa yang kurang familiar, silakan lihat Glosarium Faunalytics untuk definisi dan contoh yang mudah dipahami.
Pernyataan Etika Penelitian
Seperti halnya semua penelitian murni yang dilakukan oleh Faunalytics, penelitian ini dilakukan sesuai dengan standar yang diuraikan dalam Kebijakan Etika Penelitian dan Penanganan Data kami.
Citations:
Stennett, J., Wong, E., Rowles, F., Troy, A., & Thompkins, A. (2025). Cross-Movement Collaboration For Farmed Animal Advocates In Southeast Asia. Faunalytics. https://faunalytics.org/cross-movement-collaboration-for-farmed-animal-advocates-in-southeast-asia/

